Taman di Depan Rumah Bupati: Cermin yang Terabaikan

Berita, Daerah, Kepahiang149 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Jeri Putra Adiswanda – Warga Kepahiang yang Peduli Ruang Publik

Kepahiang, suaramahardika.id – Taman Kabupaten Kepahiang seharusnya menjadi ruang publik yang merepresentasikan wajah daerah tempat masyarakat berinteraksi, beristirahat, sekaligus simbol kepedulian pemerintah terhadap kualitas lingkungan hidup. Namun realitas yang terlihat hari ini justru berbanding terbalik. Taman yang berada di pusat Kabupaten Kepahiang itu tampak tidak terurus, kehilangan fungsi, dan jauh dari kesan sebagai ruang publik yang layak.

banner 336x280

Ironisnya, keberadaan taman tersebut bukan di lokasi terpencil atau sulit dijangkau. Ia berdiri persis di depan rumah pribadi Bupati Kepahiang. Sebuah posisi yang semestinya menjadikan taman ini sebagai etalase utama tata kelola ruang publik daerah. Namun yang terjadi justru sebaliknya—ketidakpedulian seolah dipertontonkan di ruang yang paling mudah terlihat.

Kondisi ini mengingatkan kita pada pepatah klasik: “gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan tampak jelas.” Pemerintah daerah kerap berbicara tentang pembangunan, penataan kota, hingga program-program besar yang bersifat makro. Namun, pada saat yang sama, hal-hal sederhana yang berada tepat di depan mata justru luput dari perhatian.

Bahkan, beberapa hari yang lalu Bupati Kepahiang diketahui menyampaikan laporan ke kementerian terkait kondisi jalan di wilayah Kabupaten Kepahiang. Langkah tersebut tentu patut diapresiasi sebagai upaya mencari solusi terhadap persoalan infrastruktur. Namun di sisi lain, kondisi taman yang berada tepat di depan kediaman beliau justru tidak terurus. Hal ini menimbulkan pertanyaan sederhana dari masyarakat: jika hal yang paling dekat dan paling terlihat saja belum dapat ditangani dengan baik, bagaimana dengan persoalan lain yang lebih luas dan kompleks?

Dalam perspektif kebijakan publik, pengelolaan taman kota bukan sekadar urusan estetika. Ia merupakan bagian dari pelayanan publik yang berkaitan langsung dengan kualitas hidup masyarakat. Taman yang terawat mencerminkan adanya perencanaan, penganggaran, serta pengawasan yang berjalan. Sebaliknya, taman yang terbengkalai menunjukkan adanya celah dalam implementasi kebijakan, bahkan dapat menjadi indikator lemahnya komitmen terhadap pelayanan publik dasar.

Lebih dari itu, keberadaan taman di depan rumah pejabat publik memiliki makna simbolik. Ia bukan hanya ruang terbuka, tetapi juga cermin kepemimpinan. Ketika ruang di depan kediaman seorang kepala daerah saja tidak terkelola dengan baik, publik tentu berhak mempertanyakan bagaimana pengelolaan ruang-ruang lain yang berada jauh dari pusat kekuasaan.

Kritik ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai pengingat bahwa kepercayaan publik dibangun dari hal-hal yang nyata dan terlihat sehari-hari. Pemerintah Kabupaten Kepahiang perlu segera mengambil langkah konkret—mulai dari perawatan rutin, penataan ulang, hingga memastikan adanya sistem pengelolaan yang berkelanjutan.

Sebab pada akhirnya, wajah sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh program besar yang tertulis di atas kertas, tetapi juga oleh bagaimana pemerintah merawat hal-hal kecil yang berada tepat di depan mata. Dan taman itu yang terletak di depan rumah pribadi milik  Bupati seharusnya menjadi contoh pertama, bukan justru bukti kelalaian.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *