Pabrik Tahu di Jatisrono Wonogiri Terbakar Dini Hari, Diduga Dipicu Bara Sekam

Berita, Daerah, Peristiwa43 Dilihat
banner 468x60

Wonogiri, suaramahardika.id –  Kebakaran terjadi di sebuah industri tahu rumahan di Dusun Watugede RT 09/RW 03, Desa Jatisrono, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Selasa dini hari (17/3/2026). Peristiwa tersebut sempat membuat warga sekitar panik setelah api tiba-tiba membesar dari area dapur produksi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kebakaran pertama kali dilaporkan sekitar pukul 00.10 WIB. Petugas pemadam kebakaran Kabupaten Wonogiri kemudian bergerak cepat dan tiba di lokasi pada pukul 00.35 WIB.

banner 336x280

Api baru berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 02.30 WIB setelah proses pemadaman dan pendinginan yang cukup panjang.

Petugas menduga sumber api berasal dari bara sekam dan kulit mete yang digunakan sebagai bahan bakar tungku penggorengan tahu. Bara yang masih menyimpan panas diduga kembali menyala dan memicu kobaran api hingga melalap bagian dapur produksi.

Sebanyak delapan personel pemadam kebakaran dengan dua unit mobil damkar dikerahkan untuk menangani kejadian tersebut. Proses pemadaman juga melibatkan berbagai unsur, antara lain warga setempat, TRC kecamatan, pihak kepolisian sektor (Polsek) Jatisrono, serta Koramil setempat.

Petugas mengakui proses pendinginan memakan waktu cukup lama karena karakteristik sekam yang mampu menyimpan bara api dalam waktu panjang dan berpotensi menyala kembali.

“Fokus kami tidak hanya memadamkan api, tetapi juga memastikan tidak ada bara tersisa yang bisa memicu kebakaran ulang,” ujar salah satu petugas di lokasi.

Meski api sempat membesar dan melalap dapur penggorengan, kebakaran berhasil dikendalikan sebelum merembet ke bangunan lain di sekitarnya.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, kerugian material diperkirakan berasal dari kerusakan pada area dapur produksi tahu.

Perlu Kewaspadaan Industri Rumahan

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa kebakaran pada industri tahu skala rumahan cukup rentan terjadi. Penggunaan bahan bakar seperti sekam atau kayu, serta bara tungku yang tidak sepenuhnya padam, menjadi faktor risiko utama.

Selain itu, tata letak area produksi yang berdekatan dengan bahan mudah terbakar juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran.

Pihak terkait mengimbau para pelaku usaha rumahan agar lebih memperhatikan aspek keselamatan kerja, terutama dalam memastikan bara tungku benar-benar padam setelah digunakan.

Dengan respons cepat petugas dan dukungan warga, kebakaran di Jatisrono ini berhasil dikendalikan tanpa korban jiwa. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan guna mencegah kejadian serupa terulang kembali. (GLMS-01)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *