Ramai Dihujat karena Pernyataan “Orang Desa Tidak Pakai Dolar”, Gema Goeyardi Minta Publik Lihat Konteks Utuh

Berita, Jakarta75 Dilihat
banner 468x60

Jakarta, suaramahardika.id – Pernyataan Presiden Republik Indonesia yang menyebut bahwa “orang desa tidak pakai dolar” belakangan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Potongan video yang beredar memicu berbagai reaksi, mulai dari kritik hingga dukungan dari masyarakat.

Menanggapi polemik tersebut, pakar keuangan sekaligus pendiri dan CEO astronacci.com Gema Goeyardi, menilai pernyataan tersebut perlu dipahami secara utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

banner 336x280

Menurut Gema, banyak orang hanya melihat cuplikan singkat tanpa memahami konteks pembicaraan yang sebenarnya. Ia menduga maksud pernyataan tersebut adalah untuk menjelaskan bahwa mayoritas masyarakat, khususnya di pedesaan, tidak bertransaksi langsung menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat dalam kehidupan sehari-hari.

“Masyarakat membeli beras, sayur, kebutuhan pokok, hingga berbelanja di warung menggunakan rupiah, bukan dolar. Jadi konteksnya lebih kepada aktivitas ekonomi sehari-hari masyarakat,” ujar Gema.

Namun demikian, Gema menegaskan bahwa hal tersebut bukan berarti pergerakan nilai tukar dolar tidak memiliki dampak terhadap perekonomian nasional.

Menurutnya, penguatan dolar AS tetap dapat memengaruhi harga berbagai barang dan jasa melalui kenaikan biaya impor bahan baku, energi, mesin industri, maupun komponen produksi yang masih bergantung pada pasar luar negeri.

Sebagai ilustrasi, apabila nilai tukar rupiah melemah dari Rp15.000 menjadi Rp16.500 per dolar AS, maka terjadi pelemahan sekitar 10 persen. Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya impor dan pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen.

Karena itu, Gema mengingatkan masyarakat agar dapat membedakan antara penggunaan dolar dalam transaksi sehari-hari dengan dampak makroekonomi yang ditimbulkan oleh perubahan nilai tukar.

“Pernyataan itu tidak bisa diartikan bahwa dolar tidak penting. Yang dimaksud adalah masyarakat tidak bertransaksi langsung menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari. Sementara dampak ekonomi dari pergerakan dolar tetap ada dan harus diperhatikan,” jelasnya.

Polemik yang muncul di media sosial juga menjadi pengingat pentingnya melihat sebuah pernyataan secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan. Sejumlah pengamat menilai potongan video yang beredar tanpa konteks lengkap sering kali memunculkan persepsi yang berbeda dari maksud sebenarnya.

Di sisi lain, para ekonom sepakat bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan inflasi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan demikian, perdebatan mengenai pernyataan “orang desa tidak pakai dolar” bukan sekadar soal mata uang yang digunakan dalam transaksi sehari-hari, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat memahami hubungan antara nilai tukar, harga barang, dan kondisi ekonomi secara keseluruhan. (GLMS-001)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *